Bisnis dan Hukum
Bisnis

Updated 13 Feb 2026

Kesalahan yang Paling Sering Diulang Pengusaha Meski Sudah Banyak Contoh Kegagalannya?

Setiap tahun selalu ada bisnis yang tumbang, dan ironisnya, penyebabnya sering terjadi bukan karena hal baru. Polanya berulang, pelakunya berganti. Padahal, contoh kegagalan sudah banyak di berita, media sosial, hingga cerita sesama pengusaha. Namun tetap saja, kesalahan yang sama terus diulang, seolah-olah pelaku bisnis yakin “kali ini akan berbeda”. 

Kesalahan yang Terlihat Sepele, tapi Mematikan 

Banyak pengusaha merasa kegagalan itu terjadi karena faktor eksternal: ekonomi, pesaing, atau keadaan pasar. Faktanya, sebagian besar kegagalan justru berakar dari keputusan internal yang terlalu keliru dan keputusan ini sering diambil secara sadar, meski risikonya sudah diketahui. 

 Berikut Beberapa Kesalahan Yang Paling Sering Diulang: 

1.  Mengabaikan Cashflow demi Mengejar Omzet ->  Banyak usaha runtuh bukan karena produknya tidak laku, melainkan karena uang masuk tidak sebanding dengan uang keluar, atau pemasukan datang terlambat sementara biaya terus berjalan. 

2.  Terlalu Percaya Diri Tanpa Data ->  Banyak pengusaha menambah stok, membuka cabang, atau menaikkan biaya iklan hanya berdasarkan perasaan optimistis—bukan perhitungan,  ketika keputusan besar diambil tanpa data, risikonya dapat menjadi berkali lipat. 

3.  Mengabaikan Aspek Hukum Sejak Awal ->  Banyak pengusaha menunda urusan legal: tidak membuat perjanjian kerja sama, tidak mengatur hak dan kewajiban secara tertulis, atau mengabaikan izin dan ketentuan dasar.  Ketiadaan perlindungan hukum dapat menjadi bom waktu yang sulit dihindari. 

Jadi, kesalahan dalam bisnis sebenarnya jarang benar-benar baru. Yang sering terjadi adalah mengabaikan pelajaran dari kegagalan orang lain, lalu mengulangnya kembali dengan keyakinan berlebihan. Bisnis yang bertahan lama bukanlah yang paling cepat tumbuh, melainkan yang mau belajar, berhati-hati, dan disiplin dalam mengambil keputusan. Pada akhirnya, kegagalan bukan selalu karena kurangnya peluang, tetapi karena menutup mata terhadap kesalahan yang seharusnya bisa dihindari sejak awal